Pati Dalam Lintasan Sejarah

Di bawah kepemimpinan Raden Kembangjoyo, kesatria dari Majasemi, tiga kadipaten meliputi Paranggaruda, Carangsoka, dan Majasemi memilih bersatu menjadi Kadipaten Pati. Berdirinya Pati-Pesantenan, sekaligus mengakhiri sekian lama perang saudara berdarah-darah yang melibatkan ketiga kadipaten serumpun itu.

ALKISAH, Adipati Paranggaruda berniat menikahkan putera tunggalnya, Raden Jaseri, dengan puteri Adipati Carangsoka, Dewi Ruyung Wulan. Menak Jasari, nama kecil Jaseri, telah dinobatkan sebagai putera mahkota Paranggaruda, kendati bukan seorang pangeran terpelajar dengan perawakan sempurna.

Tapi hati Ruyung Wulan sulit menerima Jaseri, setelah sesekali melihat sosok Pangeran Paranggaruda itu. Kontan ia menolak cinta Jaseri, yang sejak lama mendambanya. Pada masa itu, kehendak orangtua pantang dibantah, dan ia harus menerimanya sebagai titah. Ruyung Wulan harus pasrah menerima takdirnya, membuka hatinya untuk Jaseri sebagai pendampingnya.

Pesta pernikahan tetap dilangsungkan, kendati hati Ruyung Wulan meronta-ronta. Sang puteri mengajukan syarat, pesta pernikahannya dengan Jaseri harus dimeriahkan dengan pagelaran wayang purwa (wayang kulit), yang menampilkan dalang Ki Soponyono. Dalang kondang ini memang sulit dicari tandingannya pada masa itu, karena kecakapannya membawakan banyak karakter dalam kisah Mahabharata dan Ramayana.

Epik besar karya Begawan Abiyasa itu benar-benar hidup di tangan Soponyono. Wajar bila sosoknya selalu dirindukan banyak kalangan, di mana butiran hikmah dan kisah para kesatria Astina seakan hadir bersamanya. Pada masanya, Soponyono bukanlah dalang biasa, yang sekadar menyajikan adegan berikut bumbu kisah cinta ataupun hiruk-pikuk para badut dan kesatria di medan perang.

Hanya saja, kali ini Soponyono mengaku kebingungan menyanggupi permintaan sang puteri, yang mengajukan banyak syarat di luar pakem kisah yang lazim ia bawakan. Selain cantik jelita, Ruyung Wulan memang dikenal banyak akal. Permintaannya kepada Soponyono, yang ia nilai tak wajar, menjadi satu-satunya jalan untuk mengulur-ulur gelaran pesta pernikahan.

Ruyung Wulan yang berkukuh menolak cinta Pangeran Jaseri, tentu menghendaki pernikahan itu tak pernah terjadi. Pernikahan yang tak dilandasi saling cinta, bagi sang puteri adalah duri dalam hati, dan tak ragu lagi bakal melemahkan semangat dalam menjalani kehidupan rumah tangga; ia ingin Soponyono menyajikan kisah sedih, yang menjadi cerminan suasana hatinya.

Dengan berat hati, dalang kenamaan itu menunaikan tugas dari sang puteri. Segala kemampuan ia kerahkan, agar rintihan hati sang puteri dimengerti oleh seluruh penduduk negeri. Tak biasanya, dalam pesta pernikahan yang dipaksakan itu, Soponyono membawakan cerita yang begitu asing di kalangan penikmat wayang purwa.

Setiap kali pesta pernikahan digelar, pakem pedalangan yang dianut Soponyono menyajikan kisah yang berakhir kebahagiaan (happy ending). Tapi tidak untuk kali ini, karena ia harus mengobrak-abrik pakem, lari dari tradisi yang ia tekuni sebagai dalang paling mumpuni; ia harus membawakan kisah sedih di pesta pernikahan seorang puteri!

Begitu babak pertama adegan memasuki akhir kisah, terdengar suara penonton menggeremang, tanda ketidakpuasan mereka pada lakon yang dibawakan sang dalang. Soponyono terus berusaha tampil tanpa memicu kecurigaan, sehingga ia tetap menjalankan tugasnya sebaik mungkin demi menjalankan perintah sang junjungan.

Rupanya, lakon aneh itu bukan satu-satunya permintaan Ruyung Wulan, karena ia juga menolak bersanding dengan Pangeran Jaseri di pelaminan, jika tak didampingi dua orang adik perempuan Soponyono. Ambarsari dan Ambarwati, dua adik kandung Dalang Soponyono, akhirnya bertindak sebagai waranggana Swarawati untuk sang mempelai.

Raden Jaseri berbunga-bunga hatinya, dapat bersanding bersama pujaan hatinya di pelaminan, hingga membuatnya terus diamuk berahi kala menyaksikan keanggunan sang puteri dari dekat. Tak sabar menunggu pesta usai, tangan pangeran bertampang bopeng itu mulai nakal, tak henti sibuk mencolek-colek pipi Ruyung Wulan. Ruyung Wulan berontak, dan tak urung menimbulkan kegaduhan di pelaminan.

Lakon anyar besutan Soponyono mendadak terhenti, oleh kegaduhan dari atas pelaminan. Rayung Wulan lari dari pelaminan, dan langsung menjatuhkan diri di pangkuan Soponyono, karena hanyut dalam kisah sedih yang ia bawakan. Ia terpesona dan jatuh cinta kepada Soponyono, yang tampan dan pandai berkisah, bukan lelaki macam Raden Jaseri yang hanya gemar mengumbar berahi.

"Bawa aku lari Kakang Soponyono," pinta Ruyung Wulan. Kalau tidak, lebih baik aku mati saja!" Bukan hanya keluarga kedua mempelai yang tersentak, Soponyono sendiri takut bercampur heran bukan kepalang. Tapi permintaan sang puteri meluluhkan hatinya. Tak ada pilihan lain, ia segera mengeluarkan kesaktiannya untuk memadamkan semua lampu di Kadipaten Carangsoka.

Di tengah cekaman gelap gulita, Soponyono membawa lari Dewi Ruyung Wulan, yang diikuti kedua adik perempuannya. Adipati Carangsoka, Puspo Handung Joyo, yang merasa dilecehkan, segera memanggil patihnya, Arya Singopadu untuk bertindak. "Perintahkan prajurit menyalakan semua lampu kadipaten, sekarang!" titah sang adipati, dan para prajurit bergegas menyalakan semua lampu di kadipaten.

Kejadian berikutnya tak kalah mengejutkan, karena Pangeran Jaseri diketahui bergulung-gulung di lantai pelaminan, layaknya anak kecil. Kemarahan pangeran tak lagi bisa dibendung, ia meraung-raung meratapi kepergian pujaan hatinya bersama Dalang Soponyono. Puspo Handung Joyo kembali memerintahkan Patih Singopadu menyiagakan prajurit, demi membawa kembali Soponyono dan Ruyung Wulan.

Seperti alap-alap, dengan cepat Prajurit Carangsoka menyebar ke seluruh desa kadipaten, memasuki dan menggeledah rumah-rumah. 'Operasi militer' mendadak itu tak urung membuat rakyat Carangsoka ketakutan, dan mereka memilih berlari berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri. Tindakan kasar para prajuritnya membuat Puspo Handung Joyo murka, tapi Dalang Soponyono harus segera ditangkap, hidup atau mati.

Soponyono dan Ruyung Wulan, berasama kedua adik sang dalang, terus berlari menuju kawasan hutan. Mereka terus berlari mengikuti alur sungai. Dalam pelarian, Soponyono beberapa kali melakukan perlawanan terhadap sebarisan prajurit yang hampir menangkapnya. Berhari-hari keluar dan masuk hutan, Ruyung Wulan terpaksa menanggalkan pakaian kebesaran yang ia kenakan, menukarnya dengan pakaian penduduk setempat, agar tak dikenali dan menjadi pusat perhatian.

Pelarian mereka terhenti di Dukuh Bantengan--kini wilayah Kecamatan Trangkil--di Panewon (kecamatan, red.) Majasemi. Perjalanan siang hari memaksa mereka berhenti, demi seteguk air untuk mengusir dahaga. Berikutnya mereka melanjutkan perjalanan untuk menemukan sumber air, yang di sana-sini wilayahnya tampak didera kemarau panjang.

Kali ini mereka harus beristirahat sejenak, mengembalikan tenaga dengan berteduh di bawah pohon yang kering-kerontang dihantam kemarau. Sehari-hari berjalan dalam pelarian menjadi siksaan bagi Soponyono, terlebih bagi ketiga orang perempuan yang menyertainya. Ketiganya akhirnya menyerah, jika harus melanjutkan perjalanan yang dirasakan seperti tanpa ujung itu.

Sampailah rombongan pelarian di sebuah sawah yang kering, sunyi, dan tanpa sumber air. Sungai di sisi petak sawah juga mengering, akibat kemarau panjang. Sebagai kepala rombongan pelarian, Dalang Soponyono kembali kebingunan. Ia khawatir, meminta air kepada penduduk bakal memicu kecurigaan. Satu-satunya jalan untuk bisa bertahan, ia harus mencuri semangka atau mentimun yang ada di pesawahan itu.

Tanpa mereka sadari, dari kejauhan, gerak-geriknya diawasi oleh si pemilik sawah, Raden Kembangjoyo. Sebelumnya, Kembangjoyo kerap menerima laporan dari penduduk setempat, bahwa sawahnya sering dirusak oleh sekawanan binatang seperti kerbau atau kancil.

Laporan warga rupanya benar adanya. Hanya saja, di luar dugaan, perusak sawahnya bukanlah sejenis binatang, melainkan segerombolan manusia. Adik Penewu (jabatan di dalam struktur pemerintahan daerah setingkat camat, red.) Sukmoyono ini segera memerintahkan para abdinya mengepung area sawah yang dirusak segerombolan orang tak dikenal. "Ternyata kalian yang merusak sawah kami!" bentak Kembangjoyo.

"Tangkap!" perintah Raden Kembangjoyo, tanpa ampun. Perang sengit antara Soponyono dengan para abdi Kembangjoyo tak terhindarkan, tapi sang dalang berhasil melumpuhkan mereka. Kembangjoyo akhirnya turun tangan, dan keduanya terlibat baku hantam sengit di tengah sawah. Ketiga puteri hanya bisa menyaksikan dari jauh dengan perasaan sedih, tanpa bisa berbuat apa-apa.

Pertarungan berakhir dengan kekalahan Dalang Soponyono. Raden Kembangjoyo berhasil melumpuhkan sang dalang, kemudian segera mengikat tangannya menggunakan tali dadung. "Saya mencuri karena terpaksa Ndoro," kata Soponyono, tak berdaya. "Yang namanya maling juga terpaksa semua," balas Kembangjoyo.

Bermaksud menyelamatkan Soponyono, Ruyung Wulan dan kedua adiknya keluar dari persembunyian. "Lepaskan Kakang Soponyono," teriak Ruyung Wulan. "Yang kamu buru bukan dia, tapi aku. Kamu boleh membawaku, asalkan Kakang Soponyono dilepaskan." Ruyung Wulan mengira, yang menangkap Soponyono adalah pasukan dari Kadipaten Paranggaruda.

Kembangjoyo sempat heran, begaimana ceritanya, maling yang ia tangkap disertai tiga orang perempuan cantik jelita. Karena setia pada tugas sang kakak untuk menjaga sawah, Kembangjoyo akhirnya mengikat tangan ketiga perempuan itu. Keempat tawanan dibawa ke hadapan Penewu Sukmoyono untuk disidang.

Kepada Ki Panewu, Soponyono memperkenalkan satu-persatu anggota rombongannya. Ia menceritakan semua kejadian yang mereka alami, mengapa mereka didikejar-kejar pasukan Paranggaruda, dan terpaksa mencuri semangka dan mentimun di sawah Raden Kembangjoyo. Penuturan Soponyono membuat Penewu Sukmoyono jatuh iba, dan membuatnya tak sampai hati menjatuhkan hukuman.

Di luar dugaan, Panewu Sukmoyono menawarkan perlindungan kepada rombongan buron Kadipaten Paranggaruda itu. "Tinggal di sini semaumu, silakan. Masalah Paranggaruda biar kami yang menghadapinya," tegas Panewu Sukmoyono. Ia juga mempersilakan Dalang Soponyono, bersama ketiga puteri Carangsoka itu, beristirahat di rumahnya.

Sebagai ungkapan terima kasih, Saponyono menyerahkan kedua adiknya kepada Panewu untuk diterima sebagai abdinya. Ki Sukmoyono menerima hadiah dari Soponyono dengan senang hati. Ambarsari diperistri Panewu sebagai selir, sedangkan Ambarwati dihadiahkan kepada Raden Kembangjoyo untuk dijadikan istri. Adapun Dewi Ruyung Wulan, akan dikembalikan ke Kadipaten Carangsoka.

Peristiwa itu diketahui oleh Yuyu Rumpung, seorang pembesar dari Kemaguhan. Sebagai abdi setia Kadipaten Paranggaruda, ia sejak lama mengetahui bahwa Keris Rambut Pinutung berikut Kuluk Kanigoro merupakan pusaka pilih tanding milik Panewu Sukmoyono. Yuyu Rumpung memerintahkan anak buahnya, Sondong Majeruk, untuk mencuri kedua pusaka tersebut.

Tetapi, sebelum pusaka itu diserahkan kepada Yuyu Rumpung, Sondong Makerti--anak buahnya yang lain--bermaksud menyelamatkan kedua pusaka itu dari tangan Yuyu Rumpung. Terjadilah pertempuran sengit, yang berakhir dengan tewasnya Sondong Majeruk di tangan Sondong Makerti. Sondong Majeruk tewas bersimbah darah, setelah Sondong Makerti menusuknya dengan Keris Rambut Pinutung.

'Pengkhianatan' Sondong Makerti memicu kemarahan Yuyu Rumpung. Ia memerintahkan pasukannya menyerbu Majasemi, dengan bantuan dari Pasukan Paranggaruda, pimpinan Adipati Yudhapati. Begitu sampai di Majasemi, Yudhapati mendapat laporan bahwa buronan Soponyono, Dewi Ruyung Wulan, bersama kedua adik Soponyono ada di Majasemi dalam lindungan Panewu Sukmoyono.

Pertempuran sengit tak terhindarkan, di mana banyak korban berjatuhan dari kedua pihak, termasuk Penewu Sukmoyono. Gugurnya Sukmayono memaksa Raden Kembangjoyo angkat senjata dan terjun ke medan perang, dengan berbekal Keris Rambut Pinutung dan Kuluk Kanigoro, ia menghancurkan Pasukan Paranggaruda.

Dalam perang ini, Patih Singapati dan Patih Singapadu gugur, setelah keduanya bertarung mati-matian membela negerinya. Sejarah mencatat, pertempuran hebat di Majasemi berakhir dengan kemenangan Raden Kembangjoyo. Begitu huru-hara berakhir, Dalang Soponyono segera mengantar Dewi Ruyung Wulan bersama Raden Kembangjoyo ke Kadipaten Carangsoka.

Dalang Soponyono menyerahkan Dewi Ruyung Wulan kepada Raden Kembangjoyo, untuk dijadikan istrinya. Keberhasilan Raden Kembangjoyo mengalahkan Kadipaten Paranggaruda, berikut Adipati Yudhapati, membuatnya didaulat menggantikan takhta Adipati Puspo Handung Joyo sebagai Adipati Carangsoka.

Raden Kebangjoyo segera melakukan konsolidasi, menyusul bergabung atau meleburnya tiga kadipaten, yakni Paranggaruda, Carangsoka dan Majasemi menjadi satu kadipaten, Kadipaten Pati. Peleburan tiga wilayah itu diakui sebagai puncak kemenangan diplomasi Raden Kembangjoyo, sehingga ketiga kadipaten menjadi rukun, yang sebelumnya diketahui kerap terlibat peperangan sekian lama.

Adipati Kembangjoyo mengajak Dalang Soponyono bersama-sama membangun kejayaan Kadipaten Pati, termasuk dalam memperluas wilayah kekuasaannya. Keduanya memutuskan untuk mencari lokasi baru, yang bakal dibangun sebagai pusat pemerintahan. Mereka kemudian membuka Hutan Kemiri, untuk dibangun sebagai kotapraja atau pusat pemerintahan Kadipaten Pati.

Alas Kemiri bukan hanya wingit, tapi juga habitat nyaman bagi kawanan binatang buas sejak lama. Warga sekitar Alas Kemiri menuturkan, di kedalaman alas angker itu juga berdiri kerajaan siluman. Pengalaman panjang Soponyono sebagai dalang kondang--yang didukung ketekunan laku dan dedikasinya pada khazanah spiritualitas Jawa--menjadikan perannya begitu penting dalam upaya Raden Kembangjoyo memaksa raja siluman Alas Kemiri bertekuk lutut.

Dalang Sopoyono menggelar ritual khusus, dengan melakukan selamatan berikut memainkan wayang berlakon khusus di Alas Kemiri. Saat yang sama, Raden Kembangjoyo, dengan bekal Keris Rambut Pinutung berikut Kuluk Kanigara, bahkan pada gilirannya sanggup membuat Raja Siluman beserta pasukannya menyerah, dan kemudian memilih hengkang dari Alas Kemiri.

Alas Kemiri tak lagi terasa singup dan wingit, karena segera diubah menjadi perkampungan manusia. Sejarah lisan masyarakat Pati menuturkan, dengan dibantu rakyat dan prajurit terpilih Carangsoka, sejak saat itu dimulailah pembukaan (babat) Alas Kemiri untuk dijadikan perkampungan penduduk Kadipaten Pati.

Sumber yang sama menuturkan, pembukaan Alas Kemiri tak lepas dari banyak kejadian aneh. Saat pembukaan alas tahap awal dilakukan, dikisahkan seorang lelaki sepuh yang memikul gentong berisi air menghampiri Raden Kembangjoyo, dengan berseru, "Berhenti Kisanak!" kata lelaki sepuh itu.

"Siapa namamu, dan apa yang sedang kau pikul itu?" tanya Kembangjoyo. Kedatangan lelaki sepuh itu, yang sebelumnya tak diketahui asal-usulnya, dan tak diketahui dari arah mana datangnya, membuat semua pekerja berhenti sejenak.

"Saya Ki Sagola, dan gentong yang kupikul ini berisi dawet. Aku terbiasa berjualan dawet dan melewati hutan ini," jawab tamu tak diundang itu.

Setengah heran, Raden Kembangjoyo meminta penjelasan kepada Ki Sagola. "Dawet itu minuman apa?" tanya dia. "Coba saya dibuatkan, begitu juga prajurit-prajurit saya ini!" pintanya.

Sembari meracik dawet, menuangnya ke dalam ratusan mangkuk dari batok kelapa, Ki Sagola balik bertanya kepada Kembangjoyo. "Kenapa pohon hutan ini kok ditebangi? Kasihan para binatang pada lari ke gunung?”

"Kami sedang membuka hutan ini, untuk perkampungan baru, Ki. Agar kelak dapat menjadi kota raja yang makmur, gemah ripah loh jinawi. Sebab, derah kami dulu sudah tidak memungkinkan ditempati, akibat perang saudara sekian lama," terang Kembangjoyo.

Raden Kembangjoyo terkesan dengan minuman yang baru ia temui sepanjang hidupnya, dawet, racikan seorang lelaki tua yang mengaku bernama Sagola. Rasanya manis dan segar, menghilangkan dahaga, dan saat yang sama, cukup mengusir rasa lapar. Ia bertanya kepada Ki Sagola, apa saja bahan yang diperlukan untuk membuat minuman semacam itu.

Ki Sagola menceritakan, minuman dawet diracik dari saripati aren yang dicampur dengan santan kelapa, kemudian dipadukan dengan gula aren atau gula kelapa. Jawaban Ki Sagola, pada gilirannya, menjadi cikal-bakal nama perkampungan anyar yang ia buka bersama rakyatnya di kawasan Pantai Utara Jawa ini.

Begitu pembukaan Alas Kemiri rampung, Raden Kembangjoyo menamainya Kadipaten Pati-Pesantenan. Kadipaten Pati-Pesantenan, Anda tahu, sejak lama dikenal sebagai daerah makmur, yang kini lebih dikenal dengan sebutan Pati Bumi Mina Tani. (Bersambung)

Pati dalam Lintasan Sejarah ditulis berdasarkan sejarah lisan masyarakat setempat. Ada banyak fragmen sejarah Pati yang tercecer dalam beragam bentuk sumber sejarah. Babad Pati, salah satu sumber tertulis ihwal sejarah Pati, hingga kini telah melewati beragam penafsiran dari kurun yang berbeda.

Berdasaran sumber-sumber otoritatif yang diperoleh, penulisan ini saat yang sama merupakan bagian dari ikhtiar untuk mengerti, memahami, dan pada gilirannya mengambil pelajaran dari asal-usul bermulanya sebuah entitas sosial-kultural, yang kemudian secara administratif dinamai Kadipaten Pati atau Kabupaten Pati.

Tags :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here